Blogger Layouts
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam haditsnya:

“Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasannya adalah wanita yang shalihah. Bila engkau memandangnya, ia menggembirakan (menyenangkan)mu. Bila engkau perintah, ia menaatimu. Dan bila engkau bepergian meninggalkannya, ia menjaga dirinya (untukmu) dan menjaga hartamu.”

Rabu, 16 Februari 2011

Istimewanya Para Wanita

Kaum feminis sering mengampanyekan kebebasan wanita dan kesetaraan mutlak antara pria dan wanita. Mereka bilang susah jadi wanita, apalagi "syariat Islam" banyak membatasi bahkan mengekang kebebasan para wanita.  Mereka berargumentasi sebagai berikut :

1. Wanita auratnya lebih susah dijaga (lebih banyak) dibanding lelaki.
2. Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya.
3. Wanita saksinya (apabila menjadi saksi) kurang berbanding lelaki.
4. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki.
5. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak.
6. Wanita wajib taat kepada suaminya, sementara suami tak perlu taat pada isterinya.
7. Talak terletak di tangan suami dan bukan isteri.
8. Wanita kurang dalam beribadat karena adanya masalah haid dan nifas yang tak ada pada lelaki.

Itu sebabnya mereka tidak henti-hentinya berpromosi untuk "MEMERDEKAKAN WANITA" dari jeratan Agama & Kekangan Moral Etika. Pernahkah kita lihat sebaliknya (kenyataannya) ?

1. Benda yang mahal harganya akan dijaga, dibelai serta disimpan ditempat yang teraman dan terbaik. Sudah pasti intan permata tidak akan dibiar terserak bukan? Itulah bandingannya dengan seorang wanita, ia perlu dijaga dari sambaran nafsu mata keranjang para lelaki dan jamahan tangan usil para hidung belang. Hijab dan pakaian yang tertutup menjaga mereka dari itu semua.

2. Wanita perlu taat kepada suami, tetapi tahukah lelaki wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama daripada kepada bapaknya ?. Demikianlah Islam mengatur pembagian tanggung jawab antar manusia, Istri perlu berbakti pada suami, dan suami perlu berbakti pada ibunya. Suatu keseimbangan yang proporsional bukan ?

3. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki, tetapi tahukah harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya, sementara apabila lelaki menerima warisan, ia perlu/wajib juga menggunakan hartanya untuk isteri dan anak-anak.

4. Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi tahukah bahwa setiap saat dia didoakan oleh segala makhluk, malaikat dan seluruh makhluk ALLAH di muka bumi ini, dan tahukah jika ia mati karena melahirkan adalah syahid dan surga menantinya.

5. Di akhirat kelak, seorang lelaki akan dimintakan pertanggungjawabannya terhadap 4 wanita, yaitu : Isterinya , ibunya, anak perempuannya dan saudara perempuannya. Artinya, bagi seorang wanita tanggung jawab terhadapnya ditanggung oleh 4 orang lelaki, yaitu : suaminya, ayahnya, anak lelakinya dan saudara lelakinya.

6. Seorang wanita boleh memasuki pintu syurga melalui pintu surga yang mana saja yang disukainya, cukup dengan 4 syarat saja, tidak kurang tidak lebih yaitu :sembahyang lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, taat kepada suaminya dan menjaga kehormatannya.

7. Seorang lelaki wajib berjihad fisabilillah, sementara bagi wanita jika taat akan suaminya, serta menunaikan tanggungjawabnya kepada ALLAH, maka ia akan turut menerima pahala setara seperti pahala orang pergi berjihad fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata.

Masya ALLAH ! Demikian sayangnya ALLAH pada wanita, hanya saja kita yang sering berprasangka buruk pada-Nya. Lihatlah bagaimana Dia memperlakukan wanita dengan begitu spesial.

Dia menghiasinya dengan kecantikan dan keindahan,
Dia membekalinya dengan kehalusan dan kelembutan,
Dia memeliharanya dari gangguan dan kekerasan,
Dia memerintahkan kaum lelaki (ayah, suami, anak dan saudaranya) untuk melindungi dan menjaganya dengan sepenuh hati dan bila perlu mempertaruhkan nyawa untuknya,
Dia memuliakannya dengan panggilan Ibu bagi anak-anaknya,
Dia memberinya keutamaan sebagai sarana penciptaan makhluknya (dengan mengandung dan melahirkan),
Dia memudahkannya dalam beribadah dan meraih syurga,
Dia memerintahkan para pria untuk menikahinya dan memberinya mahar sebagai bukti kesejatian cintanya, dia amanahi pula para pria untuk memenuhi nafkah dan kebutuhannya.
Dia gerakkan hati setiap lelaki untuk menjaga dan melindunginya dari segala mara bahaya, menghiburnya di kala sedih dan menggembirakannya di saat lara.

Saudariku,,,
Adakah Kasih Sayang yang lebih besar daripada itu, ataukah
Adakah Rasa Cinta yang lebih dalam daripada itu,
Dialah Allah Rabbmu, Tuhan Seru Sekalian Alam.

@}~~Jawaban Istikhorohku~~{@

♥●♥_◕_♥●♥

Awalnya kupikir ini tentang memilih. Karena mereka, insya Allah, adalah ikhwan-ikhwan yang shalih. Aku mengamati perubahan mereka dan, subhanallah, mereka telah menjadi muslim yang lebih baik dari sebelumnya. Dan aku mencintai mereka karena Allah.

Seorang dari mereka menaruh harapannya padaku. Ia ingin aku menjadi calon penghuni surga bersamanya menjadi istrinya. Hhh, akhirnya kata-kata indah yang selalu kutunggu itu terdengar juga... dari sahabatku. Sahabat terbaikku, yang sangat mengerti diriku dan akupun memahami dirinya. Dia seorang ikhwan yang baik, yang membuatku sempat berfikir bila suatu hari dia melamarku maka aku tak akan punya alasan apapun untuk menolaknya. Karena begitu baiknya dia.

Namun pemikiran itu berubah saat seorang ikhwan yang lain datang ke dalam kehidupanku. Dialah yang mengirimkan pesan-pesan singkat dan panggilan-panggilan tak terjawab. Seseorang yang tak pernah terlintas di benakku sedikitpun, namun akhirnya mengisi ruang khusus di hatiku. Ia tak pernah memberi keputusan ataupun sebuah janji. Namun setiap kata darinya menyiratkan bahwa ia cenderung padaku. Wallahu'alam.

Dia seorang yang sopan, yang sangat menghormatiku. Kebaikan akhlak serta keelokan parasnya membuatku berfikir bukanlah wanita seperti aku yang pantas baginya. Dia bagaikan seorang pangeran. Sikapnya yang sulit kutebak sungguh membuatku merasa bahwa aku hanyalah teman biasa baginya.

♥●♥_◕_♥●♥

Aku menjalin persahabatan dengan keduanya, tanpa sepengetahuan masing-masing dari mereka. Karena mereka pun bersahabat dekat. Banyak ilmu yang kudapat dari mereka. Merekalah tempat aku bertanya dan meminta nasehat, begitu pula aku bagi mereka. Menurutku persahabatan ini biasa saja, tidak melewati batas norma. Semuanya tentang dakwah. Namun aku merasa hubungan ini tidak bersih. Karena tidak ada persahabatan yang tidak melibatkan hati. Dan aku telah menzhalimi diriku sendiri.

Aku ingin melepaskan diri dari mereka agar aku bisa berpikir jernih dan hatiku menjadi bersih. Aku memang ingin menikah. Tapi tidak dalam situasi seperti ini. Aku berpikir bahwa aku harus memilih salah satu dari mereka. Namun aku hanya menipu diriku sendiri.

Setelah shalat istikharah kudirikan dengan doa agar Allah memberiku jalan yang terbaik, kupikir aku telah mendapatkan jawabannya. Karena setiap hal yang aku lakukan selalu tertuju padanya, sang pangeran. Sungguh aku telah memperdaya akalku dan hatiku telah lalai menempatkanNya.

Pinangan sahabatku tidak kuterima. Walaupun bisa kubayangkan masa depanku akan cerah bersamanya. Ia menerima keputusanku dan tersadar bahwa ia telah menyia-nyiakan waktunya memikirkan aku. Dan pada saat yang sama, sang pangeran pun menyatakan keinginannya untuk melepaskan diri dariku. Ia pun tersadar telah menyia-nyiakan waktunya untukku. Yah, jalan itu masih panjang... dan mereka pun memilih mencintai Sang Kekasih Sejati dari pada diriku.

Subhanallah, bagaimana aku tidak semakin mencintai mereka. Dan jelaslah, bahwa mereka berhak mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku. Berat bagiku menghadapi kenyataan bahwa aku telah kehilangan sahabat-sahabat terbaikku. Namun aku bersyukur mereka meninggalkan aku demi Surga yang siap menerima orang-orang yang kembali ke jalanNya. Dan ke sanalah pula aku akan menuju. Inilah jawaban istikharahku.

♥●♥_◕_♥●♥

Kembali pada Allah, yang akan selalu ada untukku. Yang tak akan pernah meninggalkanku. Yang selalu mengetahui kebutuhanku dan menyediakannya. Yang selalu mendengar keinginanku dan mengabulkannya. Yang selalu mendengar keluh kesahku dan membantuku mengatasinya. Yang selalu cemburu bila aku melupakannya walau sekejap mata. Yah, Dialah Sang Kekasih Sejati yang kusadari cintaNya meliputi seluruh alam untukku.

Tentang jodoh. aku tak akan memusingkannya lagi. Seperti halnya takdir lahir dan takdir mati. Tak akan mundur atau maju sedetikpun. Aku yakin seseorang di luar sana telah diciptakan Allah khusus untukku. Bukankah manusia diciptakan berpasang-pasangan.

Mungkin dia adalah salah satu dari mereka, mungkin juga bukan. Bila mereka bagiku adalah ikhwan yang baik namun tak satupun dari mereka Allah izinkan untuk menikahiku, maka aku yakin Allah telah menyiapkan ikhwan yang jauh lebih baik dari mereka untukku. Karena aku tahu Allah tak akan pernah mengecewakanku. Dan kudoakan semoga mereka dikaruniai istri yang shalihah yang jauh lebih baik dari yang pernah mereka bayangkan sebelumnya. Karena Allah tak akan pernah mengecewakan hamba-hambaNya.

disadur dari kisah nyata seorang sahabat hati :-)

Nantikanku di Pintu Surga

♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Seorang wanita di hadapanku memang tak secantik Cinderela dengan sepasang sepatu kacanya ataupun semempesona Nirmala dengan tongkat ajaibnya. 
Tapi dia adalah orang yang paling aku cintai. Istriku.

“  Mas, kok malah ngelamun, pertanyaanku gak di jawab “ aku terkejut dengan cubitan istriku. 
Aku hanya tersenyum.

“ Orang tua mu masih enggak suka juga ya mas sama aku, aku memang belum bisa ngasih cucu buat mereka “
 dia pun melanjutkan pertanyaannya.

“ Kata siapa Dik ?? mereka sayang kok sama kamu “

Keluargaku memang sejak awal tidak menerima kehadirannya, istriku sangat sensitif dengan keluargaku.
 Ketidak setujan utama keluargaku karna mereka memandang istriku “ jelek “ itu kata mereka.
 Dengan tubuh pendek dan gendut, menurut mereka dia tak pantas denganku.

Ahh..itu kan kata mereka, buatku dia wanita yang mempesona.
 Jilbabnya yang membuatnya selalu terlihat anggun, suaranya yang sering melantunkan Al Quran selalu membuatku gemetaran, kesabarannya dalam kesulitan ekonomi kami yang memang karna ketidak setujuan keluargaku, maka kami bagai terasingkan.
 Buatku, tak apalah aku ingkar pada orangtuaku yang mengajakku pada kebatilan, mereka lebih memilih tahta,kecantikan dan harta. Sedangkan aku ingin seorang wanita yang bisa menuntunku dan mengajakku selalu mengingat Allah.

“ Duh, mas. Enggak usah beliin aku yang macem-macem deh mas. 
Ini baju kan mahal banget, mendingan buat sedekah atau buat simpanan kita “ katanya.

“ Aahh..kamu ini. 
Selalu mikirin itu, sekali-kali aku ini pengen buat kamu seneng, malah di protes “
 aku pura-pura cemberut di hadapannya.
“ Iya..iya.. maaf yaa sayang . 
Aku coba ya bajunya “ 
dia pun melesat masuk ke kamar.
“ Gimana mas ?? “ katanya.
 Aku hanya terbengong melihatnya.
“ maasss… “ katanya sedikit berteriak. 
Aku hanya cengengesan tanpa bisa berkata apapun.
“ Kita makan yuk mas, aku siapkan dulu “ katanya.

Baru beberapa langkah, aku melihat istriku memegang perutnya seperti kesakitan yang luar biasa.
 Lalu terjatuh.
Terdengar suara berdebam kuat di lantai.
Aku panik. Aku bingung. Aku segera telpon Ambulance.
Istri ku koma. Sudah 3 minggu dia dalam keadaan seperti ini. 
Dia terkena Kanker di rahimnya. 
Kanker yang sudah lama di deritanya. 


Kenapa..kenapa aku sampai tak tahu dia sedang sakit ?? 
suami macam apa aku ini.


Laptop kesayanganya aku bawakan untuknya. 
Dia tak pernah bisa lepas dari laptopnya. 
Aku paham dengan keadaannya yang selalu sendiri, karna aku bekerja dari pagi hingga malam menjelang.
Aku buka laptopnya. 
Aku mainkan ayat-ayat suci yang selalu dia nyalakan setiap pagi. 
Aku begitu sayu untuk mampu menatapnya lekat-lekat. 
Aku buka satu persatu folder ku buka. 

Sampai aku menemukan sebuah judul “ CatatanKu “. 
Aku segera membukanya.
Aku tersenyum membaca ceritanya, di mulai ketika kita ta’aruf. 
Aku menatapnya sambil berharap dia segera sembuh agar dia bisa menjadi seorang penulis. 
Matakupun mulai serius ketika kisah kita di mulai dari ketertekanannya. Aku menitikkan air mataku.
Aku membaca dengan lamat-lamat ketika dia menuliskan setiap detik rasa sakitnya. 
Air mataku makin deras ketika ku membaca bagaimana dia menutupi sakitnya.


“Aku tak mungkin memberitahunya, sedangkan ekonomi kami belum membaik. Aku tak mau sampai suamiku ikut menanggung kesulitanku. Aku juga enggak mau aku tambah buruk di hadapan keluarganya. Aku yang belum di karunia anak,sekarang harus di timpa musibah sakit seperti ini. Belum tentu keluarganya kasihan padaku, aku takut nanti suamiku yang kena imbasnya. Biarlah sakit ini hanya aku dan Allah yang tahu. Karna aku yakin setelah musibah ini, aku akan di berinya sebuah keindahan yang luar biasa.”


Tak sanggup aku untuk meneruskan membaca kalimat-kalimat yang ada di hadapanku. 
Aku memilih menutupnya dan aku ingin segera mengadu padaNya.

“ Yaa Robb, segera sembuhkan lah istriku dari sakitnya dan ijinkan aku untuk tetap menjaganya untukMu. 
Namun jika Engkau ingin menghapuskan jiwa istriku dari segala dosa-dosanya, maka aku ikhlaskan dirinya demi diriMu. 
Biarkan dia menantikanku di pintu surga. Aamiin “

Tak lama suara “ Tiiit” panjang dari indikator denyut jantungnya.
Aku melihatnya tersenyum begitu manis.
 Bidadariku, nantikanku dipintu surga Nya.


Wallahua’lam bi Shawwab.

♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Hebatnya Seorang Ibu


'Ibu' adalah nama yang tidak dapat dipisahkan dalam kotak memori setiap insan. Pertarungan nyawa dan ketabahan menahan kesakitan mengandung, melahir dan membesarkan anak-anak bukanlah perkara asing dalam catatan diari hidup seorang ibu. Itulah tugas yang tercatat sebagai seorang ibu yang benar-benar berfungsi dalam mendidik anak-anak.
Air mata, kelembutan, kasih sayang dan teman di masa susah atau senang adalah sebuah nukilan khas yang boleh saya dedikasikan buat ibu saya. Malah hemat saya juga tersemat utuh menyatakan semua ibu di dunia ini punya rasa yang sama. Naluri keibuan ini adalah sunnatullah yang tercipta bermula daripada Hawa AS. Jadi semestinya semua ibu, bakal ibu malah semua wanita mempunyai sifat-sifat yang saya nyatakan. Semestinya benar, bukankah begitu?
Dulu, Kisah sebuah memori
Masih tersemat utuh dalam ingatan saya betapa ibu saya cukup mudah mengalirkan air mata. Semasa saya atau adik saya dirotan ayah, ibulah selalunya akan membela dengan aliran air mata. Semasa kakak saya yang sulung melangkahkan kaki meninggalkan rumah mengikut suami selepas majlis akad dilangsungkan, ibu saya menghantar pemergiannya dengan linangan air mata. Masa itu saya cukup pelik kenapa ibu saya menangis sedangkan kakak saya pergi secara terhormat mengikut suami. Masa itu saya buntu tidak berjawapan.
Suri rumah sepenuh masa menjadikan anak-anak amat rapat dengan ibu. Masih terbayang di minda saya hingga kini betapa kalutnya ibu saya setiap pagi menyediakan sarapan sebelum saya dan adik-adik ke sekolah. Sememangnya saya antara anak yang cukup susah untuk makan pagi sekalipun dengan hanya minum teh dan apa yang pasti ibu saya akan membawa minuman hingga ke pintu luar dan akan pastikan saya mengambil sarapan walaupun dengan hanya seteguk air.
Masih terngiang kata-kata ibu bila saya mula berdegil tidak mahu bersarapan, "Minum lah sikit baru cergas dalam kelas" atau kadang-kadang ibu juga mengugut jika saya tetap berdegail, "Tak baik tu, minum sikit nanti tak berkat belajar". Mungkin kerana takut dengan ugutan, saya selalunya akan memaksa diri minum juga walau seteguk.
Tabiat saya yang jarang bersarapan melekat hingga kini kerana tiada siapa lagi yang boleh memaksa saya bersarapan. Tapi yang agak melucukan apabila ibu saya selalu berpesan dicorong-corong telefon setiap kali saya saya menelefon rumah atau melalui SMS dengan 3 perkara; kerapkan mandi, ambil sarapan dan banyakkan minum air. Tapi biasalah saya memang degil...
Kisah ibu saya yang murah air mata terhadap anak-anak saya panjangkan dengan kisah kakak sulung saya. Ketika abang ipar saya menyambung pengajian di UKM sejurus sahaja lahir anak sulung menjadikan hidup mereka sekeluarga agak susah. Hidup di Kuala Lumpur menjadikan kesempitan mereka kian parah. Berbekalkan gaji sebagai kerani sekolah kakak saya yang tidak sampai ke angka 1000 dan separuh gaji suami lantaran bercuti menyambung pengajian sepenuh masa sebagai guru menjadikan hidup mereka kian terhimpit.
Hidup menyewa di rumah setinggan yang rata-rata didiami warga Indonesia menjadikan hati saya pilu dan kadang-kadang mata saya juga berkaca. Pernah saya berseloroh pada kakak saya untuk membawa pulang Along (anak sulung kakak saya) ke kampung bila lahirnya anak yang kedua. Reaksi yang saya terima hanyalah linangan air mata tanpa kata. Kakak saya menangis bila ada sahaja cadangan mahu memisahkan dia daripada anak-anak. Tekadnya biarlah susah macam mana sekalipun asalkan anak-anak tetap bersama.
Niat saya semasa memberikakan cadangan untuk membawa pulang anak sulung kakak saya ke kampung dan dipelihara ibu saya lahir daripada rasa kesian yang amat sangat dengan kesempitan yang dialami. Mudah-mudahan kesusahan tersebut dapat dikurangkan.
Pernah suatu ketika semasa melahirkan anak kedua, semasa dalam pantang 40 hari kakak saya ke klinik dengan menaiki bas bersama 2 anak. Anak sulung berumur setahun setengah dipimpin dan anak ke dua yang baru berumur sebulan didukung dengan menaiki bas untuk ke klinik dalam kesesakan kota. Hati mana yang tidak sedih bila mendengar khabar susah kakak sebegitu. Tidak mampu saya bayangkan betapa susahnya hidup mereka anak-beranak.
Namun semuanya diceritakan selepas abang ipar saya tamat pengajian dan sekarang sudahpun menjadi pensyarah di Universiti Malaya dan sedang menyiapkan tesis PhD dalam bidang Psikologi Dan Pendidikan Khas Kanak-Kanak Istimewa. Sesungguhnya perlu saya iyakan, disebalik kehebatan seorang lelaki rupanya ada jasa insan tabah yang bernama isteri. 
Kini, Kisah Sebuah Realiti
Pandangan saya bahawa ibu saya hanya mampu menangis bila berpisah dengan anak-anak rupanya meleset. Dalam Majlis Konvokesyen apabila saya naik ke pentas untuk berucap mewakili pelajar ibu saya langsung tidak menangis. Semasa di lapangan terbang ketika menghantar saya ke Mesir, ibu saya juga tidak menangis. Masih saya ingat senyuman dan pelukkan terakhir tersebut langsung tidak menunjukkan reaksi sedih malah ibu saya nampak tenang dan gembira. Apa yang terbaliknya saya pula yang sebak dan mata saya sedikit berkaca sebagaimana ayah saya juga.
Lama saya berfikir kenapa ibu saya mula bertegas dan tidak menangis ketika menghantar saya di Airport. Seminggu selepas itu saya menelefon ibu saya dan saya straight bertanya kenapa demikian jadinya. Ibu saya bercerita bahawa 3 tahun beliau bersedia dengan perpisahan ini sebaik sahaja saya menjejakkan kaki ke KIAS, Nilam puri dan bertegas untuk menyambung pengajian di Universiti Al-Azhar. Katanya lagi, kini tiada apa lagi yang mahu disedihkan kerana hasratnya untuk melihat saya menjadi seorang berilmu kian hampir.
Ibu saya tidak menaruh harapan yang terlampau tinggi terhadap saya dan adik-beradik lelaki yang lain. Katanya beliau sudah puas hati sekiranya anak-anak berilmu, mampu menjadi imam di masjid dan mampu berkongsi ilmu dengan orang kampung. Pada saya tanggungjawab itu susah dan harapan itu tinggi. 

Mengapa Wanita Memerlukan Lelaki?


Wanita tidak semestinya memerlukan lelaki, tetapi wanita dan lelaki saling memerlukan, cinta itu anugerah.
Mengapa wanita memerlukan lelaki di dalam hidupnya? Untuk beberapa waktu dahulu, ia begitu memukul-mukul kepala.
Ya, apa perlu seorang wanita yang bebas mempertaruhkan sebahagian besar hidupnya kepada tangan seorang lelaki?
Bukankah lebih hebat jalan dihujung minggu bersama kawan rapat, berkenyit-kenyitan mata kepada lelaki kacak yang saling tidak putus dan tidak lokek senyum tanda salam perkenalan.
Saya mempunyai seorang rakan, sederhana cantik, tidak terlalu kurus tidak terlalu gemuk, tidak terlalu buruk, tidak terlalu jelita, manisnya ada, santunnya memikat orang tua, beragama juga kerana selalu sahaja diceritakan dia terhendap-hendap membawa sejadah masuk ke bilik stor kecil untuk solat, dan dia sentiasa cuba gembira dengan kehidupannya yang solo.
Tetapi saya fikir, saya faham apa yang berputar-putar dalam kepalanya.
Dia tidak dapat berdusta betapa kebahagiaan cinta kawan-kawan membuatnya cemburu, dan membuatnya selalu terfikir-fikir: Apalah perasaan gadis yang dipuja dan dicintai hebat oleh seorang lelaki.
Kawan, saya harap dia membaca artikel ini. Cinta tidak datang dipaksa-paksa. Cinta tidak juga datang kala kita mahukannya. Jika kita mahukan ia menjadi air, ia datang seperti api.
Tetapi, jika kita bersabar dan menerima ketentuan Tuhan, seorang lelaki yang baik akan didatangkan kepada kita juga. Lelaki yang baik itu tidak turun dari langit.
Lelaki yang baik itu juga tidak semestinya datang dengan kepala berketayap, janggut selambak atau harta membuak-buak.
Tetapi lelaki yang baik, jika Tuhan mahukan dia menemani kita sepanjang hayat, membimbing kelakuan kita, menjaga kemurnian kalbu bersama-sama, mendidik, membuka jalan agar kita dapat memperdalam selok belok agama yang barangkali selama ini hanya menjadi pakaian dan lencana, dan memberikan kita zuriat yang halal lagi dirahmatiNya.
Dia akan datang apabila tiba masanya. Lambat atau cepat, maafkan saya, kerana Allah itu yang lebih mengetahui.
Kawan, kedatangan seorang lelaki dalam kehidupan seorang wanita seperti manusia kudung yang diberikan semula sebelah kakinya. Dia menyempurnakan kita.
Namun, tidak kira semasyhuk mana sekalipun perkasihan dua jantina, selain perkara yang cantik-cantik dan molek-molek, kita, wanita, harus bersedia menerima kehodohan-kehodohan perhubungan.
Kerana apabila kita mempersilakan seorang lelaki duduk di samping kita untuk sepanjang hayat, bererti kita harus langsung juga mempersilakan sekian masalahnya berbaring di bahu kita.
Kerana itu tidak hairan jika kita mendengar ada di kalangan kita, gadis, yang merungut-rungut kerana tanggungjawabnya terhadap keperluan hidup lelaki tidak juga berkurangan walaupun belum lagi berkahwin.
Ya, lelaki memang mendatangkan bahagia.
Tetapi lelaki juga mendatangkan sengsara. Namun jika kita bijak menatangnya, semuanya pasti baik-baik sahaja. Itulah adat dalam perhubungan. Yang buruk-buruk pasti ada.
Barangkali daripada si dia, barangkali juga daripada kita, tetapi kita harus cermat mengimbangkannya agar jodoh berkekalan ke hari tua.
Bagi yang sedang galak bercinta dengan lelaki permata jiwa tetapi menerima tentangan keluarga dua pihak, jika anda fikir anda tidak mungkin mampu hidup bahagia tanpa restu ibu bapa, maka ada baiknya anda menyerah kalah saja.
Walaupun tidak saling memiliki, dan cinta tidak juga diwali dan dinikahi, anda dan dia tetap pengantin di dalam jiwa.
Barangkali sudah sampai masanya anda mencari sahaja lelaki lain untuk dibawa pulang menemui ibu bapa.
Bercakap soal kahwin, beberapa kenalan rapat yang dewasa bersama-sama.
Sejak zaman gatal-menggatal kenyit mengenyit kala di bangku pengajian, kini sudah disunting, dan bakal menjadi isteri kepada lelaki yang mereka cintai.
Semoga mereka tak tersalah pilih.
Dan semoga lelaki yang dipilih, melaksanakan tanggungjawab dan melunaskan hak suami isteri.
Wanita, kita dicipta dengan kemuliaan syahadah. Kerana benih seorang lelaki, kita ini tersenyawa, dikurnia tenaga sehingga kita mampu menyibak jalan keluar dari rahim ibu untuk melihat dunia.
Kerana benih seorang lelaki, kita ini ditiupkan jiwa, menjadi manusia, dan mencari seorang lelaki untuk dicintai, sebagaimana ibu diilhamkan Tuhan untuk berkasih sayang dengan bapa.
Dan kerana Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Pencipta, kita wanita, kita ini diciptakan daripada lengkungan rusuk kiri lelaki, tidak terlalu gagah sehingga mengenepi kudrat lelaki, tidak juga terlalu lemah sehingga jatuh menyembah kaki.
Tetapi kerana ciptaan Tuhan itu indah, kita terbit daripada rusuk lelaki, bukan dekat kepala untuk dijunjungi, bukan dekat bahu untuk membebani, bukan dekat lengan untuk dijulangi, bukan dekat jari untuk disakiti, bukan dekat pinggul untuk dihenyaki, bukan dekat lutut untuk ditindihi, bukan dekat kaki untuk ditunggangi, tetapi dekat pelusuk hati untuk dimulia, disayangi dan dicintai.
Andai lelaki itu burung yang terbang, kita adalah angin lembut yang bersisir-sisiran sepanjang perjalanannya.
Tetapi kerana fitrah kejadian Tuhan wanita itu kebergantungan hidupnya harus saja diserahkan kepada seorang lelaki yang boleh melindungi, maka kita pun tidak selamanya mahu menjadi angin semata-mata.
Kita mahu menjadi bunga, menghias sayapnya. Kita mahu terus bersama-sama, terbang dari rendah perkebunan bunga sehingga ke sayup langit terbuka, sehingga jalannya yang paling hujung, sehingga kita tua, rapuh dan mati.
Tetapi kita bahagia dalam dakapannya, semoga kita semua diketemukan dengan jodoh yang baik..InsyaAllah...

Saidatina Khadijah: Contohilah Dia Wahai Wanita


Sebab apa jadi sebegini? Semenjak hari-hari yang saya lalui minggu ini, saya terbaca banyak perkara dan belajar pelbagai perkara mengenai wanita.
Dan hari-hari yang saya lalui di tempat saya menyambung belajar ini, saya melihat pelbagai ragam dan jenis wanita.
Dan dengan itu juga, saya ingin berkongsi dengan kalian akan tajuk mengenai, 'Wanita'.
Dalam realiti dunia yang penuh dengan kemajuan hari ini, kita dapat lihat bahawa wanita-wanita juga seiring dengan kebangkitan kemajuan pada hari ini.
Akan tetapi, kita dapat lihat juga segelintir dalam kalangan wanita-wanita yang menjadikan diri mereka ini sebagai fitnah yang besar, terutamanya kepada agama mereka sendiri.
Rasulullah SAW bersabda; "Berhati-hatilah kalian daripada godaan dunia, dan waspadailah terhadap wanita, sebab fitnah pertama yang menimpa Bani Israil adalah fitnah wanita" -Hadis Riwayat Muslim
"Tidak aku tinggalkan fitnah yang lebih berbahaya bagi seorang lelaki daripada (fitnah) wanita." - Hadis Riwayat Bukhari
Apabila membicarakan tentang fitnah wanita, bukan bermakna wanita itu jahat dan sukakan keburukan.
Tetapi apa yang dimaksudkan ialah keadaan mereka itu mampu menjadikan lelaki lupa daratan dan apabila usaha pencegahan tidak dilakukan, akan berlakulah perkara-perkara yang tidak diingini.
Ini sudah pasti apabila lelaki yang berkenaan tidak berhati-hati. Bagaikan binatang ternak yang memakan rumput berdekatan dengan padang larangan, adalah mudah bagi binatang itu memasuki kawasan tersebut.
Dan pada hari ini juga, kita dapat lihat wanita-wanita Islam semakin ramai antara mereka yang terhakis akhlaknya seterusnya menghilangkan identiti Muslimah sebenar daripada diri mereka.
Dengan ini, saya ingin mengajak kita semua, tidak kira kaum lelaki dan kaum wanita untuk sama-sama menyelusuri kisah kehidupan seorang wanita yang kehidupannya banyak dijadikan sebagai tulang belakang pendokong seorang lelaki.
Siapakah wanita itu? Semestinya dialah Saidatina Khadijah RA. Isteri tercinta seorang lelaki, Nabi Muhammad SAW.
Mengapa saya ingin bawakan kepada wanita-wanita sekalian akan kisah wanita ini?
Kerana hakikatnya juga, wanita-wanita pada hari ini lebih menjadikan artis-artis sebagai idola dan pujaan hati dalam diri mereka untuk dicontohi.
"Demi Allah, tidak ada ganti yang lebih baik dari dia, yang beriman kepadaku saat semua orang ingkar, yang percaya kepadaku ketika semua mendustakan, yang mengorbankan semua hartanya saat semua berusaha mempertahankannya dan darinyalah aku mendapatkan keturunan."
Begitulah Rasulullah saw berkata tentang keperibadian Khadijah, isterinya.
Seorang isteri sejati, muslimah yang dengan segenap kemampuan dirinya berkorban demi kejayaan Islam
Siti Khadijah berasal dari keturunan yang terhormat, mempunyai harta kekayaan yang tidak sedikit serta terkenal sebagai wanita yang tegas dan cerdas.
Bukan sekali dua kali pemuka kaum Quraisy cuba untuk mempersunting dirinya.
Tetapi pilihannya justeru, jatuh pada seorang pemuda yang bernama Muhammad, pemuda yang begitu mengenal harga dirinya, yang tidak tergiur oleh kekayaan dan kecantikan yang dimiliki oleh Saidatina Khadijah Khuwailid RA.
Saidatina Khadijah RA merupakan wanita pertama beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.
Beliau banyak membantu dan memperteguhkan tekad Rasulullah SAW melaksanakan risalah dakwah.
Beliau sentiasa berusaha meringankan kepedihan hati dan menghilangkan keletihan serta penderitaan yang dialami oleh suaminya dalam menjalankan tugas dakwah.
Inilah keistimewaan dan keutamaan Khadijah dalam sejarah perjuangan Islam.
Beliau adalah sumber kekuatan yang berada di belakang Rasulullah SAW. Adakah ramai wanita-wanita yang bergelar isteri di luar sana mencontohi sebagaimana peribadi Ummul Mukminin ini?
Sanggup bersusah-payah bersama suami meskipun seorang yang kaya-raya... Dan adakah wanita-wanita di luar sana, yang bakal bergelar isteri, sudah bersedia mencontohi peribadi Ummul Mukminin ini?
Apabila ditanya tentang Siti Khadijah RA akan perpisahan Rasulullah SAW atas pemergiannya, Rasulullah SAW menjawab, "Ya! Sesungguhnya Khadijah adalah pentadbir dan suri rumah yang terbaik."
Buat wanita-wanita yang membaca dan berkongsi pandangan bersama, Apakah ada wanita lain yang dapat menyambut sedemikian baik peristiwa bersejarah yang berlaku di Gua Hira seperti yang dilakukan oleh Khadijah kepada suaminya?
Apa yang dikatakan oleh Khadijah kepada suaminya pada saat menghadapi peristiwa besar itu menunjukkan betapa besarnya kepercayaan dan kasih sayang seorang isteri kepada suami yang dilandasi iman yang teguh.
Sedikit pun Khadijah tidak berasa ragu-ragu atau syak di dalam hatinya.
Persoalannya, dapatkah kita jika sebagai suami dan isteri berlaku demikian untuk diri dan tugas masing-masing?
Khadijah berusaha menabahkan hati suami yang ditaatinya dengan berkata, " Wahai kekanda, demi Allah, Tuhan tidak akan mengecewakanmu kerana sesungguhnya kekanda adalah orang yang selalu memupuk dan menjaga kekeluargaan serta sanggup memikul tanggungjawab.
Dirimu dikenali sebagai penolong kaum yang sengsara, sebagai tuan rumah yang menyenangkan tamu, ringan tangan dalam memberi pertolongan, sentiasa berbicara benar dan setia kepada amanah."
Sememangnya, wanita-wanita yang begitu tinggi darjatnya dalam Islam dalam lipatan sejarah suatu masa dahulu semakin dilupakan.

Kesetiaan yang mendorong kegigihan

Mari kita teliti, fahami serta hayati beberapa gambaran kesetiaan Khadijah yang telah membina kekuatan pada diri dan kehidupan penegak risalah Islam itu.
Sepanjang hidupnya bersama Rasulullah SAW, Khadijah begitu setia menyertai baginda dalam setiap peristiwa suka dan duka.
Setiap kali suaminya ke Gua Hira, beliau pasti menyiapkan semua bekalan dan keperluannya. Seandainya Rasulullah SAW agak lama tidak pulang, beliau akan meninjau untuk memastikan keselamatan baginda. Sekiranya baginda khusyuk bermunajat, beliau tinggal di rumah dengan sabar sehingga baginda pulang.
Apabila suaminya mengadu kesusahan serta berada dalam keadaan gelisah, beliau cuba sedaya mungkin mententeram dan menghiburkannya sehingga suaminya benar-benar merasai ketenangan.
Setiap ancaman dan penganiayaan dihadapi bersama.
Malah dalam banyak kegiatan peribadatan Rasulullah SAW, Khadijah pasti bersama dan membantu baginda seperti menyediakan air untuk mengambil wuduk.
Kecintaan Khadijah bukanlah sekadar kecintaan kepada suami, sebaliknya yang jelas adalah berlandaskan keyakinan yang kuat tentang keesaan Allah SWT.
Segala pengorbanan untuk suaminya adalah ikhlas untuk mencari keredaan Allah SWT.
Allah Maha Adil dalam memberi rahmat-Nya.
Setiap amalan yang dilaksanakan dengan penuh keikhlasan pasti mendapat ganjaran yang berkekalan.
Firman Allah yang bermaksud:
"Barang siapa yang mengerjakan amalan saleh, baik lelaki mahupun wanita dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan." - An-Nahl: 97
Janji Allah itu pasti benar. Kesan kesetiaan Khadijah bukan sekadar menghasilkan kekuatan yang mendorong kegigihan dan perjuangan Rasulullah SAW, malah membawa barakah yang besar kepada rumah tangga mereka berdua.
Anak-anak yang lahir juga adalah anak-anak yang soleh.
Keturunan zuriat ahlul-bait Rasulullah SAW merupakan insan yang sentiasa taat melaksanakan perintah Allah SWT.
Semua ini menghasilkan kekuatan yang membantu meningkatkan perjuangan Islam.
Wahai lelaki, wanita bagaimanakah yang kamu hajatkan sebagai pasangan hidup, tulang belakang (pendokong) hidupmu dan pembimbing anak-anakmu?
Wahai wanita, suami yang bagaimanakah peribadinya yang kamu inginkan sebagai ketua,pembimbing dirimu dan keluargamu?
Wahai ummah, wanita yang bagaimanakah kita lihat pada hari ini, yang bagaimana kita cari, dan yang bagaimanakah kita puja dan puji?
Moga-moga renungan ini sedikit sebanyak membuka mata buat kaum Hawa dan kaum Adam yang membacanya.
Agar sebagai persediaan buat hari-hari seterusnya.