Blogger Layouts
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam haditsnya:

“Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasannya adalah wanita yang shalihah. Bila engkau memandangnya, ia menggembirakan (menyenangkan)mu. Bila engkau perintah, ia menaatimu. Dan bila engkau bepergian meninggalkannya, ia menjaga dirinya (untukmu) dan menjaga hartamu.”

Sabtu, 19 Februari 2011

kenapa menjerit?

# Mengapa Berteriak....?

Suatu hari sang guru bertanya kepada murid-muridnya, "Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, ia akan berbicara dengan suara kuat atau berteriak...?"

Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab, "Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu berteriak."

"Tapi..." sang guru balik bertanya, "lawan bicaranya justru berada disampingnya. Mengapa harus berteriak..? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus..?"

Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun tak satupun jawaban yang memuaskan.

Sang guru lalu berkata, "Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara ke dua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak. Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi."

Sang guru masih melanjutkan, "Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta? Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apapun, keduanya bisa mendengarkannya dengan begitu jelas. Mengapa demikian...?"

Sang guru bertanya sambil memperhatikan para muridnya. Mereka nampak berpikir amat dalam namun tak satupun berani memberikan jawaban.

"Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada akhirnya sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata saja amatlah cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan."

Sang guru masih melanjutkan; "Ketika anda sedang dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan jarak. Lebih lagi hendaknya kamu tidak mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di antara kamu. Mungkin di saat seperti itu, tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara yang bijaksana. Karena waktu akan membantu anda."

Teguran Itu Penting Dalam Kehidupan


"Orang yang dapat menegur orang lain adalah orang yang sedia menerima teguran orang lain."
Ayat diatas adalah antara kata-kata cerdik pandai mengenai orang yang menegur dan ditegur. Teguran boleh berlaku di mana-mana, berlaku di dalam pemerintahan kerajaan, di dalam syarikat-syarikat, di dalam persatuan-persatuan, di sekolah.
Dalam rumahtangga juga berlaku, bapa menegur anak, isteri ditegur suami, dan lain-lain. Makna katanya teguran itu berlaku di mana-mana sahaja.
Membina dan Meroboh
Teguran boleh dibahagi kepada dua secara asasnya, teguran yang membina dan yang statik dan jumud. Manusia keseluruhannya mengharapkan teguran yang membina bukan yang statik. Tetapi tidak kurang juga yang tidak lansgsung suka ditegur.
Sifat manusia yang diketahui ialah, hanya bersedia ditegur apabila dia yang memerlukan teguran tersebut. Contohnya, Si A pergi ke Si B dan ingin meminta  teguran atau nasihat, ketika itu apa sahaja yang dikatakan oleh Si B akan di dengari dengan berlapang dada.
Lain pula sekiranya seseorang yang tidak memerlukan teguran, tiba-tiba ditegur. Hanya setengah orang yang berjiwa besar sahaja yang boleh menerima teguran spontan tersebut, Manakala yang berjiwa kecil, akan terasa dan terus terseksa hati.
Orang yang Menegur
Manusia memang tidak pernah lari daripada melakukan kesalahan, yang berbeza hanya banyak dan sedikit. Tetapi biarlah orang yang cuba menegur tersebut adalah orang yang minimum kesalahannya.
Jangan jadi seperti ketam yang mengajar anaknya berjalan lurus. Sesuatu yang agak pelik apabila penagih dadah tegar mengajar atau menegur orang lain pergi ke masjid, walhal mereka sendiri masih terkontang kanting ditepi longkang dalam kotak.
Sebab itu kalau kita suka menegur, kita mesti pastikan teguran itu di tuju ke arah kita terlebih dahulu, kemudian baru ke orang lain.
Orang yang Ditegur
Teguran itu kebiasaannya bersifat membina, kerana apa yang tidak kita sedar kadang-kadang orang lain sudah sedar terlebih dahulu, persepsi kita lain, persepsi orang, lain. Sebab itu apabila ditegur, jangan terlalu cepat melenting dan menolak teguran tersebut. Kalau begitu, anda adalah orang paling rugi, kerana anda berpeluang membina diri anda tetapi awal-awal lagi anda sudah merobohkannya.
Kata Hukama, "Orang biasa akan marah apabila dikritik oleh orang lain, manakala orang yang mulia ialah mereka yang memperbaiki diri daripada kritikan orang lain. Seharusnya begini lah resam kehidupan kita".
Manusia memerlukan 'cermin' bagi bagi meneliti diri. Orang disekeliling adalah cermin bagi kita. Cuba bayangkan anda bercukur misai tanpa bercermin. Bukankah susah?
Ingat..
Setiap orang yang menegur pasti sedia juga ditegur. Ramai yang tidak mampu lakukan ini. Hanya suka menegur tetapi tidak pula suka ditegur. Sebab itu penting apabila menegur isyaratkan terlebih dahulu, teguran itu adalah terlebih dahulu untuk diri sendiri.
Ingat! Apabila anda menuding jari terhadap kesilapan orang lain, sebenarnya 3 jari anda telah menuding kepada diri anda sendiri. Itu adatnya.

Ketika Istri Tersenyum

Subhi Bani Alwiyyin February 19 at 2:13am Reply • Report
Ketika Istri Tersenyum

The Teaching of Grandshaykh Abdullah Faiz ad-Daghestani
by Maulana Shaykh Nazim al-Haqqani

Bagaimana seorang istri menerima suaminya? Grandsyeh kita memberikan Pengetahuan Ilahiah mengenai hal ini:

“Ketika seorang wanita tersenyum kepada suaminya, Allah memerintahkan seluruh surga membukakan pintu untuk dia masuk. Baginya, secara khusus Allah mempersiapkan sebuah istana bagaikan istana yang belum pernah dipersiapkan sebelumnya. Ia akan menganugrahkan berkah yang belum pernah dianugerahkan sebelumnya! Mengapa Allah yang Maha Kuasa menganugrahkan berkah sedemikian rupa? Karena ketika seorang istri tersenyum kepada suaminya, dia mengangkat semua kesulitan dalam sehari dari pundak suaminya. Hal ini memberikan cinta di antara mereka, dari hati istri kepada suami.”
“Cinta adalah alasan untuk melanjutkan kehidupan keluarga. Jika tidak ada cinta, keluarga itu berpisah. Oleh karena itu, Allah menyukai wajah-wajah tersenyum. Ini adalah hal yang sederhana, tapi sangat penting. Allah tidak pernah menyukai kebencian antara suami dan istri, antara mukmin.”
“Rasulullah (saw) bersabda bahwa tersenyum merupakan sedekah (amal) untuk setiap orang. Rasulullah (saw) datang untuk memperluas cinta di antara umat; oleh karena itu, kita harus berbuat hal yang sama. Janganlah bersikap lain kepada orang - orang yang berbeda. Jangan memperlihatkan wajah yang baik kepada satu orang, dan wajah yang buruk kepada yang lain. Kalian harus ingat, kita semua adalah hamba Allah yang Maha Kuasa dan kita telah diperintahkan untuk berbuat yang baik saja kepada satu sama lain. Ini merupakan karakter unik seseorang untuk tersenyum atau menangis dan tidak diberikan pada hewan.”

“Di Surga ada bagian - bagian tersendiri untuk masing - masing orang. Ketika seseorang melakukan perbuatan baik, salah satu bagian itu akan muncul sebagai karunia atau berkah, Surga dipenuhi begitu banyak karunia tersebut sehingga tidak ada ruang kosong ditempatkan walaupun untuk satu jari saja! Mukmin (orang beriman) akan menikmati limpahan rahmat ini setiap saat, tanpa akhir.”

“Namun,” lanjut Grandsyeh kita, “Bila seorang wanita menerima suaminya dengan wajah amarah, Allah akan memerintahkan malaikatNya untuk menutup pintu Surga dan akan memerintahkan Neraka agar terbakar lebih panas untuk dia. Akibat amarah seorang istri, semua limpahan rahmat hidup ini dan berikutnya diharamkan baginya. Dia harus secepatnya berubah dan meminta ampun, sebelum amarahnya tertulis dalam catatan Allah!”

“Wajah amarah menyebabkan hati suami merasakan benci kepada istri. Walaupun sang istri sendiri mempunyai kesulitan dan merasa menderita, dia harus menerima suaminya dengan senyuman. Untuk ini, Allah akan menghadiahkannya dengan membuang semua kesulitan tersebut. Inilah rahasia dalam menjaga keluarga yang kuat.”

“Bila komunitas keluarga kuat, masyarakatpun kuat. Maka, hidup akan berlanjut dengan bahagia, tanpa kesulitan. Oleh karena itu, dalam Islam adalah sunah untuk para istri tersenyum agar cinta bisa tumbuh. Hal yang sederhana, tapi membawa dampak yang besar.”

~~** Say No to BROKEN HEART.....! **~~

AssaLamu'alaikum.......^^
Bismillahirrohmanirrohim.......


Sahabat…pernahkah kau patah hati???

 Patah hati karena penolakan, penghianatan ataupun perpisahan???

“Patah hati itu sungguh menyakitkan, memilukan dan mematikan… “ (ehm… menurut saya kalimat ini hanya cocok untuk orang-orang yang tidak percaya akan janji Allah.. ^_^)

“Patah hati itu lebih sakit dari sakit gigi dan lebih sakit dari ditusuk belati…” (ehm…menurut saya kalimat ini sepertinya hanya cocok untuk orang-orang yang yang belum pernah sakit gigi dan belum pernah ditusuk belati … ^_^)

Menurut survei, patah hati itu menyedihkan tapi …. Saya bertanya-tanya sendiri, “Apakah hati kita benar-benar bisa patah???" Atau hanya ungkapan saja…hanya dimulut saja…merasa sakit hati dan kemudian berkata “Aku patah hati” atau “broken heart”…

Sobat...jika kita memang benar-benar terasa ada yang patah di hati atau patah hati karena penolakan, penghianatan dan perpisahan, atau ditolak, dihianati ataupun dipisahkan… ingat kalimat ini :

Allah.. tak pernah salah dalam pilihan-pilihanNya terhadap kebaikan kita. Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurutNya, apa yang menurut kita buruk belum tentu buruk menurutNya. Namun percayalah…apa yang menurutNya baik sudah pasti baik dan apa yang menurutNya buruk sudah pasti buruk. Karena Dialah Yang Maha Tahu…

Sewaktu seseorang yang kita harapkan tidak memberikan respon yang baik terhadap harapan kita, atau seseorang menolak kita, bahkan seseorang itu memutuskan untuk berpisah dengan kita..janganlah bersedih hati, janganlah merasa patah hati…jika sudah tahu patah hati itu menyedihkan, buang saja rasa itu dan menjauh dari yang namanya patah hati. Lalu jangan pernah lupakan kalimat ini…

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).”(An Nur : 26)

Sehingga, apa yang harus disedihkan??? Jika seseorang itu tidak diizinkan Allah untuk bersanding dengan kita, berarti Allah telah menyiapkan bidadari atau pangeran yang jauh lebih baik dari yang kita anggap baik.. dan berprasangka baiklah kepada Allah…nantikan janjiNya yang akan memberikan yang TERBAIK untuk kita.

“Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan)....” (Faathir :11)

Sobat...Pasangan kita sudah disiapkanNya, jodoh itu sudah disiapkanNya… Percayalah...

Jika kita ingin mendapatkan seseorang yang baik, maka jadilah orang baik…

Seseorang lelaki jangan pernah mengharapkan kan pasangan seperti Khadijah, Fatimah atau Aisyah jika sifatnya masih jauh dari standar baik dan tidak mau memperbaiki diri menjadi lelaki baik-baik...

Seseorang wanita jangan mengharapkan pasangan seperti Muhammad atau Ibrahim jika sifatnya masih jauh dari standar baik dan tidak mau memperbaiki diri menjadi wanita baik-baik...

Perbaiki diri berarti mengundang kebaikan…
Memperburuk diri berarti mengundang keburukan…

Say no to broken heart… dan jangan bersedih…

RENUNGAN n KISAH INSPIRATIF: Wahai kekasihku, calon suamiku…

RENUNGAN n KISAH INSPIRATIF: Wahai kekasihku, calon suamiku…: "oleh RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF pada 09 Februari 2011 jam 20:11 ♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥ Wahai kekasihku,..."

Memikat Hati Si Dia


"Ustaz, saya bakal melangsungkan perkahwinan Februari nanti. Harapnya, dapatlah saya dengar sedikit sebanyak nasihat dari ustaz sebagai bekal saya menempuh bahtera rumah tangga nanti," seorang sahabat dari seberang laut bertanyakan nasihat saya di suatu sore.
"Alahai Azman, awak pun tahukan, saya ni tunang pon tidak, macam mana nak jawab soal nikah kahwin ni..?" Saya menambah humor, menyempitkan jurang kami.
"Tak pernah pulak ustaz tak jawab kalau saya tanya sesuatu sebelum ni..?" Beliau menyoal saya semula.
"Kalau awak tanyakan pasal Fiqh Minoriti tentang rakan-rakan kita di Kutub Utara, mungkin ana boleh cuba jawab. Tapi, kalau soal rumah tangga ni, susah sikit untuk saya respon. Belum ada pengalaman!" Saya cuba mendekatkan lagi telinga dan hati beliau terhadap pesan saya selepas ini. Biar hati itu betul-betul terbuka luas untuk menerima, sebelum saya menyuapkan resepi agung untuk berumahtangga.
Bukan alim, bukan berpengalaman. Hanya berkongsi apa yang pernah saya baca dan jumpa. Berkawan dengan orang tua-tua menemukan saya silibus yang tak akan ditemui dalam bilik kuliah.
"Apa matlamat utama awak?" Saya cuba membuat tawaran.
"Saya nak membahagiakan isteri saya," jawab beliau ikhlas. Nada suaranya sudah berubah. Sesuai dengan topik yang sedang kami bincangkan. Langkah ini langkah susah dan payah. Langkah kedua untuk mendirikan ummah yang berpayungkan khilafah.
"Kalau macam tu, senang sahaja. Pikat hati si dia. Ikatkan dengan hati awak. Pastikan hidup mati awak bersama. Bercinta hingga ke syurga, bak kata Ustaz Hasrizal," saya cuba mempromosikan produk.
"Nak pikat macam mana tu..? Boleh dikongsikan sedikit..?" Nada suaranya semakin ghairah untuk dijamukan resepi saya. Inilah masanya, umpan sudah mengena.
"Pertama sekali, selepas awak dan dia sudah halal dengan terlafaznya 'aku terima nikahnya', kucup dahinya dalam-dalam. Kalau berpeluang, kucuplah matanya. Kemudian, ucapkan di telinga si dia yang awak sangat cintakan si dia. Tapi, jangan lupa untuk ucapkan juga syukur pada yang mengurniakan cintanya pada awak, ALLAH. Sujud syukur! Lepas itu, ucapkan juga terima kasih yang tidak terhingga kerana sudi menerima awak sebagai peneman hidup," saya sedikit bersungguh sewaktu bercerita.
"Aiwah, romantik pulak ustaz ni. Pasti cair hati isteri saya nanti," galak suaranya dengan sedikit ketawa di seberang talian sana.
"Lepas tu, kalau berpeluang, rancangkan bulan madu bersama isteri. Tak perlu belanja yang tinggi, cuma pastikan peluang itu peluang yang berkualiti. Selaraskan komunikasi, selaraskan denyut nadi dan serasikan matlamat serta tujuan hidup masing-masing. Bersedia untuk menerima kekurangan dan mengiktiraf kelebihan masing-masing. Bincangkan masa depan dan satukan imaginasi korang berdua."
"Sekali sekala, adakan surprise untuk si dia walau hanya sekuntum bunga. Kalau ada bajet yang lebih, mungkin boleh dibelikan sesuatu yang lebih berharga."
"Satu lagi, nafkah. Ini perkara penting yang telah digariskan dalam syariat kita. Jangan lewat untuk menunaikan kewajipan awak walau isteri awak ada kerjaya."
"Seterusnya, jangan lupa, bila awak terpaksa berpisah atau tinggalkan si dia sementara waktu, kucup dahi dan matanya sebelum tinggalkan rumah dan selalukanlah untuk utuskan kata-kata rindu supaya hatinya sentiasa subur dengan bunga-bunga cintanya terhadap awak. Pastikan kamu sentiasa menghubunginya setiap masa. Jangan terlewat walau sesaat cuma."
"Lebih penting, tunjukkan yang si dia lebih penting dari segala-galanya. Jangan pula awak liat untuk bertanyakan khabar kondisi si dia sedang dalam masa yang sama, awak saban hari memeriksa enjin dan kondisi Produa Myvi di depan tangga!" Sedikit humor saya selitkan dalam wasiat yang agak sinis ini. Lalu, sedikit gelakan dapat saya tangkap di hujung talian.
"Jangan lupa, bincangkan secara baik, jadual pulang berhari raya. Bimbang si dia terluka kalau tidak pulang ke rumah mertua. Jadi, jangan kedekut untuk korbankan kampung halaman untuk kebahagiaan si dia."
"Huih, banyak benar ye petua ustaz, macam pakar! Ayat pula power, macam dah bercucu tiga. Ada lagi ke ustaz? Saya dah makin bersemangat ni," Azman semakin bersemangat. Setiap patah perkataan saya dicerap sebaik-baiknya. Respon pula sentiasa ada dicelahan setiap nasihat dan idea.
"Ye, ada lagi. Mungkin ini yang paling istimewa. Bila dah ada cahaya mata nanti, cinta kamu akan terbahagi dua. Separuh untuk isteri dan separuh untuk anak-anak.  So, jangan lupa untuk ungkapkan penghargaan yang tidak terhingga sepanjang tempoh hamil sehingga selepas bersalin. Ungkapan kita akan menjadi penguat semangat si dia untuk terus menempuh saat kritikal sepanjang tempoh hamil dan proses melahirkan bayi. Saya ada satu resepi rahsia," saya memancing lagi.
"Apa tu ustaz, tolonglah jangan rahsia, nanti rumah tangga saya kurang bahagia," usiknya sambil diselangi ketawa bahagia.
"Ok, resepi rahsianya, apabila anta sambut ulang tahun kelahiran anak-anak, hadiahkan juga cenderahati penghargaan kepada si dia yang berkorban 9 bulan mengandungkan anak-anak."
"Ada lagi ustaz?" Suaranya semakin galak.
"Habis. Setakat itu sahaja," saya memutuskan kata-kata. Titik noktah diletakkan di hujung bicara.
"Hai, saya tengah bersemangat ni... jantung pun tengah kencang berdegup, janganlah berhenti mengejut begitu ustaz. Nanti boleh jatuh strok saya jadinya." Selorohnya meminta perbualan kami diperpanjangkan lagi.
"Kalau awak strok, wasiatkan tunang awak untuk saya," saya berseloroh sambil ketawa bersahaja.
"Kalau awak masih sudi, masih ada resepi yang kurang menarik. Jarang orang suka mendengar resepi ini. Kalau awak betul-betul mahu, saya boleh sambung," nada suara saya mendatar.
"Boleh, saya sedia. Saya tahu, pasti akan ada manfaatnya," Azman masih bersemangat.
"Resepi ini bukan untuk memikat hati. Tapi untuk menghidupkan hati yang separuh mati. Mengesat air mata yang tak nampak alirannya. Meredakan pekikan suara hati yang tidak zahir bunyinya. Awak nak dengar ke?" Nada saya bertukar sedikit serius.
"Apa tu ustaz?" Nadanya kini berubah.
"Awak pernah kucup dahi ibu sendiri?" Tanya saya ringkas.
"Belum," ringkas juga jawapan Azman.
"Kucupi dahi ibu kamu sebelum kamu mengucup dahi isteri. Ibu itu yang berkorban 9 bulan mabuk, loya dan letih mengandungkan kita dan bersabung nyawa melahirkan kita. Mengasihi kita tanpa sebarang syarat ataupun mahar mahupun nafkah. Dahi ibu kita lebih layak untuk kita kucup sebelum kita kucup dahi isteri yang baru kita kenali beberapa bulan."
"Pernah awak  berbulan madu dengan ibu? Berkongsi tujuan dan matlamat hidup dengan ibu? Bergurau senda dan bermanja-manja dengan ibu? Kalau belum, honeymoon dulu dengan ibu awak. Kelak nanti, hatinya tidak begitu remuk melihat bahagianya bulan madu kita bersama isteri dengan melupakan jasa ibu yang pernah meletakkan seluruh hidupnya untuk kebahagiaan kita. Bahagianya honeymoon kita sehingga terlupa untuk menghubungi ibu anta di desa sana."
"Pernah awak berterima kasih pada ibu kerana melahirkan awak? Ibu yang sepanjang hidupnya menemani hidup awak? Kalau masih belum diungkapkan, segerakanlah ia sebelum awak berterima kasih kepada isteri yang sudi menjadi peneman hidup awak. Ibu tua itu lebih aula (utama) menerima ucapan itu."
"Pernah surprisekan ibu awak dengan sesuatu hadiah yang istimewa? Kalau belum, surprisekan dulu si ibu itu. Nescaya, hatinya kembali berbunga-bunga. Ibu itu pastinya sunyi bila kehilangan kita, anak kesayangannya."
"Sewaktu kita mengira belanja harian dan nafkah untuk isteri, fikirkan juga nafkah dan belanja untuk ibu kita yang tak bergaji di desa sana. Ibu itu telah membesarkan kita tanpa sebarang upah mahupun bayaran. Ye, duit yang kita akan kirimkan itu bukannya bayaran terhadap kasih sayang mereka, tapi ianya menjadi tanda yang kita juga masih mengingati malah menyayangi mereka."
"Man, saya yakin, mak awak sangat sunyi waktu ini. Saban detik, telinganya pasti ingin mendengar deringan dari seberang laut. Pasti matanya selalu menatap potret awak yang digantung atau yang terselit di celah dompet. Hubungilah ibu awak sekerap yang mungkin. Kalaupun tidak seminggu sekali, pastikan dalam sebulan, khabar awak sampai kepada mak yang jauh di kampung."
"Man, kalau dengan satu ibu dan satu ayah, kita sudah tidak mampu untuk memikat hati kedua-duanya, saya bimbang lebih banyak hati-hati yang akan terluka selepas kita mempunyai dua ibu dan dua ayah."
Gelak ketawa bertukar menjadi esak dan sendu. Nada Azman yang riang kini berubah ke sebaliknya. Saya menghentikan kalam seketika. Suasana hening seheningnya. Hanya sedikit gangguan dari gelombang talian yang seakan-akan turut terpengaruh dengan suasana.
"Saya tak berniat untuk menghancurkan impian bahagia awak. Tapi, saya yakin dengan sempurnanya plot ini, awak akan lebih berbahagia. Ummat ini akan lebih berbahagia."
"Saya yakin yang awak sudah maklum. Bait Muslim (keluarga Islam) tidak akan sempurna tanpa sempurnanya Individu Muslim. Bagitulah juga, Masyarakat Muslim tidak akan lahir dari Bait Muslim yang tempang. Khilafah tidak akan terbina dengan Masyarakat yang tidak stabil. Bersemangatlah, kitalah pemulanya. Saya yakin, tarbiah yang awak lalui telah menjadikan awak Fardul Muslim (individu Muslim) yang baik. Tinggal lagi, Allah akan mendidik awak untuk melahirkan Bait Muslim yang baik. Adikku Azman, inilah jalannya."
"Go home and love your family."
Jawapan Mother Teresa selepas ditanyakan tentang bagaimana untuk mempromosikan keamanan kepada dunia. Pertanyaan itu diajukan beliau menerima Hadiah Nobel Keamanan pada tahun 1979.
"Sebaik-baik kamu adalah oran yang paling baik hubungannya dengan ahli keluarganya. Dan aku adalah orang yang paling baik untuk keluargaku." - Hadis
Pastikan perkahwinan kita membahagiakan sejuta hati. Memuaskan sejuta jiwa. Menghidupkan sejuta roh dan menyelamatkan sejuta ummah.
Mulailah dari diri kita. Dari rumah kita. Dari Isteri dan anak-anak kita. Dari masyarakat kita. Dari negeri kita. Dari negara kita. Moga payung khilafah akan menaungi kita kelak.
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib sesuatu kaum sehinggalah mereka mengubah nasib mereka sendiri." - Al-Quran

Tidak Ku Pinta Mahar Yang Tinggi


Sayup-sayup kedengaran di luar sana. Kalau mahasiswa di Malaysia sibuk dengan pelbagai aktiviti. Ada yang sibuk bercuti dengan sahabat-sahabat, ada yang menziarahi sanak saudara, tidak kurang ada yang berprogram bersama kawan-kawan. Bercuti serata dunia.
Bagi yang ada kesedaran, ada yang mengikuti program "short sem" di pondok-pondok bertiangkan kayu jati bagi memperkukuhkan ilmu agama. Tidak rasa rugi dengan sedikit bayaran yang di kenakan. Sememangnya pondok-pondok di Malaysia sekarang sudah banyak upgrade dari segi sistemnya. Mereka mengetahui mahasiswa-mahasiswa perlukan mereka di kala cuti semester berlangsung.
Manakala bagi pelajar timur tengah mungkin sebahagiannya masih dalam peperangan exam yang belum selesai. Semoga Allah permudahkan semuanya.
Bujang Senang dan Bujang Belum Terlajak
Di hujung tahun sebegini sememangnya para 'bujang senang' mahupun 'bujang belum terlajak' mengambil kesempatan untuk mengadakan hari yang mungkin paling bahagia dalam sejarah hidup iaitu perkahwinan.
Mudah-mudahan dengan harapan sanak saudara dapat menjadi saksi akan pernikahan mereka disamping mengeratkan silaturrahim. Maklum lah masing-masing sibuk, menjadikan sanak saudara jarang bertemu. Setidak-tidaknya setahun sekali di kala hari raya. Itu pun seandainya ada cuti.
Walau bagaimanapun tidak ketinggalan masih ada yang tidak berkesempatan untuk meraikan hari bahagia tersebut dek kerana ketidakcukupan dana yang terkumpul untuk merealisasikannya. Mahu tidaknya sekarang semua barang naik. Kenapa barang naik? Saya tidak mahu jawab. Masing-masing tahu sebabnya. Masih belum terlambat untuk menurunkannya pada masa akan datang.
Kini mahar atau belanja perkahwinan menjadi bualan.
"Anak mak cik Limah tu SPM je, RM10k."
"Anak pak seman pulak RM1k je, murah kan. Tak patut betul ustaz tu."
"Anak saya kawin RM7k, tu pun dekat sepuluh kali minta diskaun."
Macam-macam orang cakap. Macam mahu jual barang. Hukum adat dan sifat berlumba-lumba di kalangan masyarakat hari ini semakin menjadi-jadi. Masing-masing ingin mengumumkan dan mengisytiharkan.
Anak Aku Paling Mahal
"Anak aku la paling "mahal" setakat ni dalam kampung kita, " dengan penuh bongkak dan takabur berbicara, tanpa menyedari hakikat mahar yang disyariatkan.
Masyarakat menjadikan Islam itu semakin sukar untuk diamalkan. Menyukarkan untuk melaksanakan tuntutan Islam sekali gus membuka pintu maksiat yang dilakukan oleh pasangan kerana sukar untuk berkahwin. Inilah barah yang kian melanda dewasa ini.
"Mak tak payah la letak mahal-mahal sangat, dia bukan keje tetap lagi," kata Lina.
"Hang gila ka apa? Aku bagi hang belajaq sampai MA, hang nak bagi kat dia RM2k jer. Baik hang cari orang lain yang lebih kaya kalau macam tu," balas Mak Andak pada Lina.
Anak hanya menunduk diam. Tidak berani membantah cakap ibu. Dikhuatiri akan terderhaka.
Kadang-kadang si anak memahami apa yang dikehendaki dengan perkahwianan, namun niat terhenti atas keinginan ibu bapa.
Macam-macam tanggapan masyarakat tentang belanja, mas kawin mahupun mahar. Terkadang seperti menjual anak pula. Kita lupa akan hakikat diri seorang insan yang bergelar wanita. Yang mana nilainya tidak ternilai dengan RM10k, RM100k dan sebagainya.
Martabat Wanita Di Sisi Agama
Sesungguhnya nilai seorang wanita itu tidak dapat dinilai dengan wang ringgit. Islam meletakkan martabat seorang wanita itu terlalu tinggi. Tidak dapat dibeli dengan segala jenis harta. Mahar yang diberikan hanyalah sebagai penghargaan dan kehormatan dari pihak lelaki kapada wanita tersebut kerana sudi menjadi teman hidupnya, berjanji berkongsi suka duka bersama hingga ke akhir hayat.
Mazhab Syafie dan sebahagian ulama tidak menetapkan kadar yang terendah dalam meletakkan nilai mahar. Selagi mana mempunyai nilai ia diterima sebagai mahar.
Kita kembali kepada sejarah yang mana Rasul s.a.w bertanya kepada sahabat yang ingin berkahwin berapakah mahar yang mampu diberikan kepada pihak perempuan. Kerana apa, kerana ia mengikut kemampuan si lelaki. Seandainya ditanya kepada pihak perempuan, sudah pasti ia akan menyukarkan pihak lelaki.
Suami Akan Lakukan Yang Terbaik
Kepada kaum muslimah tidak perlulah risau, kerana bakal suami anda akan memberikan yang terbaik untuk anda.
Pemberian yang lahir dengan penuh keikhlasan dalam hati lelakilah sebenarnya membawa keberkatan dan kebahagian dalam sesebuah keluarga.
Bilamana lelaki memberikan mahar yang diminta oleh pihak perempuan dalam keadaan tertekan, penuh bebanan dan sebagainya, inilah yang akan membawa kemudaratan di masa hadapan, nauzubillah min zalik.
Mungkin dengan mahar yang tinggi itu, si lelaki akan mengungkit itu dan ini di masa hadapan.
"Aku bayar sampai RM11k, ingtkan serba boleh. Goreng ikan pun tak masak betul, lipat baju pun tak pandai., masak kari pun masin dan bla bla bla...."
Pelbagai perkara yang tidak diingini berlaku.
Pesan Rasulullah s.a.w.
Kita lupa akan pesan Nabi s.a.w yang mana nabi menyebut,
"Pernikahan yang paling berkat adalah yang paling mudah perbelanjaannya."
"Sesungguhnya semulia-mulia perempuan itu ialah yang paling mudah urusan maharnya."
"Sebaik-baik mahar adalah yang paling mudah."
"Berilah mahar sekalipun sebentuk cincin daripada besi."
Ini menunjukkan Islam tidak mahu menyusahkan umatnya dalam melaksanakan syariat kerana dengan itu akan timbul pelbagai masalah yang lain.
Sedarlah kita bahawa kita perlu mengubah kembali persepsi masyarakat yang mengatakan, lagi tinggi harga mahar lagi tinggi darjat seseorang wanita. Ini salah sama sekali.
Saya masih ada seorang kakak yang belum berkahwin dan insyaAllah akan melangsungkan perkahwinan pada tahun hadapan. Sempat saya berpesan kepada mak sebelum kakak bertunang.
"Kakak nanti, mak jangan letak mahal-mahal. Ikut pihak lelaki tu nak bagi berapa. Kita bukan nak jual anak. Kalau mahal-mahal pun menyusahkan pihak lelaki je nanti, lagi masalah."
Pelbagai alasan dan sebab serta hikmah tentang perkahwinan sempat diceritakan kepada mak saya.
Alhamdulillah sekurang-kurangnya saya telah melaksanakan tanggungjawab yang sepatutnya. Selebihnya terpulang kepada mereka untuk melaksanakannya.
Semoga hubungan kakak saya dengan bakal suaminya berkekalan selamanya dan mendapat reda dari Allah. Amin.